Teori Humanistik dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Beberapa teori belajar telah mengawali kemunculannya secara spektakuler dan sampai sekarang masih sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan, meski pada awalnya tercetus bukan atas kajian mendalam terhadap manusia, tetapi kepada binatang yang kemudian digeneralisasi kepada manusia. Sebut saja teori belajar behavioristik. Teori yang pada awalnya dibangun atas kesimpulan dari beberapa percobaan menggunakan binatang yang kemudian hasilnya diadaptasikan kepada manusia. Seolah manusia tak ubahnya binatang yang dipandang hanya melandaskan motivasi hidupnya pada kebutuhan dasar seperti seks dan makan saja, tanpa mempertimbangkan kompleksitas manusia dan keragaman kondisi kejiwaannya.

Pendekatan behavioristik telah sangat dalam menghunjam tidak saja dalam lingkup pembelajaran, namun telah menjadi suatu paradigma dan sudut pandang masyarakat dalam menilai pendidikan itu sendiri bahkan mempengaruhi mental bangsa. Timbulnya berbagai masalah bangsa ini sering dikaitkan dengan kegagalan penerapan teori behavioristik dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan diliputi kemuraman, lamban, dan tidak efektif dalam kaitannya untuk memanusiakan manusia. Landasan ini didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah konsumen, pada prestasi individu, pengotak-ngotakan (orang dan pokok masalah), kontrol birokrasi terpusat, pelatih sebagai pelaksana program, pembelajaran terutama bersifat verbal dan kognitif, dan program pelatihan sebagai proses jalur perakitan (Meier, 2002 : 40).

Landasan baru diperlukan untuk menjawab berbagai permasalahan bangsa, dan harus dimulai dari pelaksanaan pendidikan yang sesuai dengan fitrah manusia. Pendidikan haruslah memanusiakan manusia, membuatnya mampu mengembang-kan kepribadian dan potensinya, dan menemukan hakekat penciptaannya sebagai manusia. Pendekatan inilah kemudian yang lebih dikenal dengan teori belajar humanistik.

Humanistik melihat perilaku manusia sebagai campuran antara motivasi yang lebih rendah atau lebih tinggi. Hal ini memunculkan salah satu ciri utama pendekatan humanistik, yaitu bahwa yang dilihat adalah perilaku manusia, bukan spesies lain (Thobroni, 2016:133). Inilah yang menjadi pembeda dengan behaviorisme yang melihat motivasi manusia sebagai suatu usaha untuk memenuhi kebutuhan fisiologis manusia, atau dengan freudian yang melihat motivasi sebagai berbagai macam kebutuhan seksual. Makalah ini secara ringkas akan menyajikan konsep, pandangan tokoh-tokoh, model pembelajaran, implikasi dan penerapan teori belajar humanistik dalam pembelajaran.

Konsep Teori Humanistik dalam Pembelajaran

Perkembangan teori belajar sangat erat kaitannya dengan perkembangan ilmu psikologi. Sebagai ilmu yang menggunakan manusia sebagai objek kajiannya, ilmu psikologi menyumbangkan peran yang sedemikian besar terhadap kemajuan dunia pendidikan secara khusus mengenai pemecahan masalah belajar dan pembelajaran. Pada akhir tahun 1950-an muncul suatu perspektif psikologi baru, yang sebenarnya dikembangkan bukan oleh ahli pendidikan, melainkan oleh para ahli psikologi klinis, pekerja sosial, dan konselor. Gerakan ini berkembang dan kemudian dikenalkan sebagai psikologi humanitis, eksternal, perseptual atau fenomenologikal (Herpratiwi, 2016:25).

Psikologi humanistik hadir sebagai tanggapan atas aliran psikologi yang telah muncul sebelumnya, yakni psikoanalisis dan behaviorisme. Psikoanalisis yang dipelopori oleh Sigmund Freud dianggap sebagai mazhab pertama dalam psikologi. Kemudian behaviorisme yang dicetuskan oleh John B. Watson menjadi mazhab kedua. Sedangkan psikologi humanistik yang dipelopori oleh Abraham Maslow sering dianggap sebagai mazhab ketiga (Goble, 1987:32). Terdapat perbedaan yang cukup signifikan pada sudut pandang kajian beberapa aliran tersebut dalam mengembangkan teorinya. Psikoanalisis berusaha memahami tentang kedalaman psikis manusia yang dikombinasikan dengan kesadaran pikiran guna menghasilkan kepribadian yang sehat. Kelompok psikoanalis berkeyakinan bahwa perilaku manusia dikendalikan dan diatur oleh kekuatan bawah sadar dari dalam diri manusia. Behavioristik meyakini bahwa semua perilaku dikendalikan oleh faktor-faktor eksternal dari lingkungan. Sedangkan psikologi humanistik sangat memperhatikan dimensi manusia yang berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi dengan menitikberatkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai-nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan. Secara lebih rinci James Bugental (1965:24) menjelaskan dalil dari psikologi humanistik, sebagai berikut :

The postulates of humanistic psychology: human beings cannot be reduced to components, human beings have in them a uniquely human context, human consciousness includes an awareness of oneself in the context of other people, human beings have choices and responsibilities, human beings are intentional, they seek meaning, value and creativity

James Bugental

Teori humanistik memandang tujuan belajar untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika peserta didik telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Artinya, peserta didik telah mampu mencapai aktualisasi diri secara optimal. Teori ini cenderung bersifat eklektik, maksudnya teori ini dapat memanfaatkan teori apa saja asal tujuannya tercapai (Rachmawati & Daryanto, 2015:77). Pembelajaran yang menganut teori humanistik menganggap perkembangan kepribadian muncul berdasarkan keunikan masing-masing siswa. Pembelajaran menyajikan kondisi untuk memaksimalkan kesadaran diri dan perkembangan, menghapus penghambat aktualisasi potensi pribadi, membantu siswa menemukan dan menggunakan kebebasan memilih dengan memperluas kesadaran diri, bertanggung jawab atas arah kehidupannya sendiri.  Herpratiwi (2016:26) menjelaskan bahwa keleluasaan untuk memilih apa yang akan dipelajari, kapan, dan bagaimana mereka akan mempelajarinya, merupakan ciri utama pendekatan humanistik, dan bertujuan untuk membantu siswa menjadi self-directed serta self-motivated learner.

Tokoh Teori Humanistik dan Pandangannya

A. Abraham Maslow

Pandangan Abraham Maslow perlu disampaikan pada makalah ini. Meskipun bukan seorang ahli pendidikan, namun pandangannya terhadap psikologi humanistik mendasari muncul dan berkembangnya teori belajar humanistik. Sebagai pengagum behaviorisme pada awalnya, Maslow banyak berinteraksi dengan tokoh behaviorisme seperti J.B. Watson, dan banyak melakukan penelitian menggunakan binatang, salah satunya kera. Seiring waktu ia menemukan bahwa pandangan behaviorisme sering tidak masuk akal, dan semakin meragukan behaviorisme setelah kelahiran anak pertamanya. Dalam pandangannya seorang anak manusia sangatlah unik dan penuh misteri, serta tidak dapat begitu saja disamakan sebagai binatang. Sebagaimana kemudian ia menegaskan

bahwa seseorang yang mempunyai sendiri anak tidak mungkin menjadi seorang Behavioris

Maslow dalam Goble (1987:29)

Malsow menyatakan bahwa dalam diri manusia terdapat dorongan positif untuk tumbuh sekaligus kekuatan yang menghambat. Maslow berasumsi bahwa ada dua aspek dalam diri manusia (Herpratiwi, 2016:28):

  1. Suatu usaha yang positif untuk berkembang.
  2. Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Gambar 1. Hierarki Kebutuhan Maslow

Manusia cenderung merasa khawatir untuk keluar dari “area aman”, namun secara bersamaan berkeinginan untuk lebih maju dan harus keluar dari “area aman” agar bisa maju dan berkembang. Dari sinilah individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhannya yang bersifat berjenjang. Kebutuhan lebih tinggi akan menjadi motivasi lanjutan setelah kebutuhan di bawahnya telah terpenuhi. Hierarki kebutuhan Maslow dinyatakan dalam bentuk piramida, di mana kebutuhan pada tingkat rendah cenderung lebih besar dari kebutuhan yang lebih tinggi. Pandangan ini dapat digunakan guru untuk mengetahui dan mengatasi masalah-masalah belajar yang dialami siswa yang berhubungan dengan motivasi belajarnya. Bisa jadi motivasi belajar yang lebih tinggi tidak muncul karena kebutuhan yang lebih rendah tidak terpenuhi dengan baik.

B. Carl Ransom Rogers

Carl Ransom Rogers, salah satu tokoh psikologi humanis yang memandang manusia sebagai individu yang penuh harapan dan optimis karena mempunyai potensi-potensi yang sehat untuk maju. Asumsi dasar yang dikemukakannya (Herpratiwi, 2016:30), sebagai berikut :

  1. Kecenderungan Formatif : Segala hal di dunia baik organik maupun non-organik tersusun dari hal-hal yang lebih kecil.
  2. Kecenderungan aktualisasi: Kecenderungan setiap makhluk hidup untuk bergerak menuju ke kesempurnaan atau pemenuhan potensi dirinya. Tiap individu mempunyai kekuatan yang kreatif untuk menyelesaikan masalahnya.

Pembedaan tipe belajar menurut Rogers (Thobroni, 2016:141) sebagai berikut :

  1. Kognitif (kebermaknaan)
  2. Experiential (pengalaman atau signifikansi)

Belajar yang bermakna terjadi jika dalam proses pembelajaran melibatkan aspek pikiran dan perasaan peserta didik, dan belajar yang tidak bermakna terjadi jika dalam proses pembelajaran melibatkan aspek pikiran akan tetapi tidak melibatkan aspek perasaan peserta didik.Experiential Learning menunjuk pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan siswa. Kualitas belajar experiential learning mencakup keterlibatan siswa secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri, dan adanya efek yang membekas pada siswa. Dalam proses pembelajaran guru perlu memperhatikan prinsip pendidikan (Thobroni, 2016:141), yaitu:

  1. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar.
  2. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
  3. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
  4. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
  5. Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar proses.

Melalui karya-karyanya yang telah dikenal luas seperti Freedom to Learn, Rogers menyarankan suatu pendekatan pendidikan yang berupaya menjadikan belajar dan mengajar lebih manusiawi dan karenanya lebih bersifat pribadi dan penuh makna. Prinsip dasar humanistik yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran (Thobroni, 2016:141) sebagai berikut :

  1. Manusia mempunyai kemampuan belajar secara alami.
  2. Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan siswa mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
  3. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri dianggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
  4. Tugas-tugas belajar yang mengancam diri lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar semakin kecil.
  5. Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda dan terjadilan proses belajar.
  6. Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan malakukannya.
  7. Belajar diperlancar bila siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.
  8. Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
  9. Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, dan kreativitas lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengkritik dirinya dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.
  10. Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan ke dalam diri-sendiri mengenai proses perubahan itu

C. Arthur Combs

Konsep dasar yang sering digunakan oleh Arthur Combs adalah meaning (makna atau arti). Belajar hanya akan terjadi apabila apa yang dipelajari mempunyai makna bagi individu. Combs memandang bahwa bahan ajar yang disusun rapi dan disampaikan dengan baik tidak serta merta membuat siswa mudah belajar, karena yang menyerap dan mencerna materi pelajaran adalah siswa sendiri dan bukan guru. Yang menjadi masalah dalam pembelajaran bukan pada bagaimana bahan ajar itu disampaikan, tetapi bagaimana membantu siswa memetik makna yang terkandung dalam bahan ajar itu. Apabila siswa dapat mengaitkan bahan ajar dengan kehidupannya, maka dapat dikatakan pembelajaran berhasil.

Combs menjelaskan bahwa perilaku buruk yang dapat timbul sebagai ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Oleh karenanya guru harus bisa memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut, sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lainnya (Thobroni, 2016:139).

Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu.

  1. Lingkaran kecil adalah gambaran dari persepsi diri
  2. Lingkaran besar adalah persepsi dunia

Semakin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri, semakin berkurang pengaruhnya terhadap perilaku. Jadi hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan diri, semakin mudah hal itu terlupakan. Lebih lanjut Combs mengemukakan bahwa ‘arti’ tidak menyatu dengan materi pembelajaran. Dengan demikian yang penting ialah bagaimana membawa siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupan (Thobroni, 2016:139).

D. David Kolb

Kolb membagi tahapan belajar menjadi empat tahap (Budiningsih, 2004:70-71), yaitu sebagai berikut :

1.Tahap Pengalaman Konkret

Pada tahap paling awal dalam peristiwa belajar adalah seseorang mampu atau dapat mengalami suatu kejadian sebagaimana adanya. Ia dapat melihat dan merasakannya, dapat menceritakan peristiwa tersebut sesuai dengan apa yang dialaminya. Namun dia belum memiliki kesadaran tentang hakekat dari peristiwa tersebut. Ia hanya dapat merasakan kejadian tersebut apa adanya, dan belum dapat memahami serta menjelaskan bagaimana peristiwa itu terjadi. Ia juga belum dapat memahami mengapa peristiwa tersebut harus terjadi seperti itu. Kemampuan inilah yang terjadi dan dimiliki seseorang pada tahap paling awal dalam proses belajar sesuai dengan apa yang dialaminya

2.Pengalaman Aktif dan Reflektif

Tahap kedua dalam peristiwa belajar adalah bahwa seseorang makin lama akan semakin mampu melakukan observasi secara aktif terhadap peristiwa yang dilaminya. Ia mulai berupaya untuk mencari jawaban dan memikirkan kejadian tersebut. Ia melakukan refleksi terhadap peristiwa yang dialaminya, dengan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan bagaimana hal itu bisa terjadi, dan mengapa hal itu mesti terjadi. Pemahamannya terhadap peristiwa yang dialaminya semakin berkembang. Kemampuan inilah yang terjadi dan dimiliki seseorang pada tahap kedua dalam proses belajar.

3. Konseptualisasi

Tahap ketiga dalam peristiwa belajar adalah seseorang sudah mulai berupaya untuk membuat abstraksi, mengembangkan suatu teori, konsep atau hukum dan prosedur tentang sesuatu yang menjadi obyek perhatiannya. Berpikir induktif banyak dilakukan untuk memuaskan suatu aturan umum atau generalisasi dari berbagai contoh peristiwa yang dialaminya. Walaupun kejadian-kejadian yang diamati tampak berbeda-beda, namun memiliki komponen-komponen yang sama yang dapat dijadikan dasar aturan bersama.

4. Eksperimentasi Aktif

Tahap tarakhir dari peristiwa belajar adalah melakukan eksperimentasi secara aktif. Pada tahap ini seseorang sudah mampu untuk mengaplikasikan konsep-konsep, teori-teori atau aturan-aturan kedalam situasi yang nyata. Berpikir deduktif banyak digunakan untuk mempraktekkan dan menguji teori-teori serta konsep-konsep dilapangan. Ia mampu menggunakan teori atau rumus-rumus untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.

E. Honey dan Mumford

Berdasarkan teori Kolb, Honey dan Mumford membuat penggolongan siswa menjadi empat macam, yaitu tipe siswa aktivis, reflektor, teoritis, dan pragmatis (Uno dalam Thobroni, 2016:135-136), sebagai berikut:

  1. Tipe siswa aktivis, bercirikan mereka yang suka melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru. Mereka cenderung berpikiran terbuka dan mudah diajak berdialog. Namun siswa semacam ini biasanya kurang skeptik terhadap sesuatu. Kadang identik dengan sifat mudah percaya. Dalam proses belajar, mereka menyukai metode yang mampu mendorong seseorang menemukan hal-hal baru, seperti brainstorming atau problem solving. Akan tetapi, mereka akan cepat merasa bosan dengan hal-hal yang memerlukan waktu lama dalam implementasi.
  2. Tipe siswa reflektor, adalah sebaliknya. Mereka cenderung sangat berhati-hati mengambil langkah. Dalam proses pengambilan keputusan, siswa tipe ini cenderung konservatif, yaitu mereka lebih suka menimbang-nimbang secara cermat, baik buruk suatu keputusan.
  3. Tipe siswa teoretis, biasanya sangat kritis senang menganalisis, dan tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya sangat subjektif. Bagi mereka, berpikir secara rasional adalah sesuatu yang sangat penting. Mereka juga biasanya sangat skeptik dan tidak menyukai hal-hal yang bersifat spekulatif.
  4. Tipe siswa pragmatis, biasanya menaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dari segala hal. Menurut mereka, teori memang penting, namun apabila teori tidak dipraktekkan, tidak akan berhasil. Siswa tipe ini suka berlarut-larut dalam membahas aspek teoretis filosofis dari sesuatu.

F. Habermas

Habermas memandang bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan lingkungan maupun sesama manusia. Dengan asumsi ini, Habermas mengelompokkan tipe belajar menjadi tiga bagian (Uno dalam Thobroni, 2016:136), yaitu sebagai berikut:

  1. Belajar Teknis (Technical Learning). Dalam belajar teknis, siswa belajar bagaimana berinteraksi dengan alam sekelilingnya. Mereka berusaha menguasai dan mengelola alam dengan cara mempelajari keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk itu.
  2. Belajar Praktis (Practical Learning). Dalam belajar praktis, siswa juga belajar berinteraksi. Akan tetapi, pada tahap ini lebih dipentingkan adalah interaksi antara dirinya dan orang-orang di sekelilingnya. Pada tahap ini, pemahaman siswa terhadap alam tidak berhenti sebagai pemahaman yang kering dan terlepas kaitannya dengan manusia. Akan tetapi, pemahaman terhadap alam justru relevan dan jika hanya berkaitan dengan kepentingan manusia.
  3. Belajar Emansipatoris (Emancipatoris Learning). Dalam tahap ini, siswa berusaha mencapai pemahaman, kesadaran yang sebaik mungkin tentang perubahan kultural daru suatu lingkungan. bagi Habermas, pemahaman dan kesadaran terhadap transformasi kultural ini dianggap tahap belajar yang paling tinggi. Sebab, transformasi kultural inilah yang dianggap sebagai tujuan pendidikan yang paling tinggi.

G. Bloom dan Krathwohl

Teori humanistik mengambil tujuan belajar sebagai apa yang mesti dikuasai oleh individu, setelah melalui peristiwa-peristiwa belajar. Bloom merangkum tujuan belajar ke dalam tiga kawasan, yang kemudian  menjadi ispirasi bagi banyak pakar pendidikan dalam mengembangkan teori-teori maupun peraktek pembelajaran. Kawasan tersebut populer sebagai Taksonomi Bloom. Secara praktis, Taksonomi Bloom membantu dalam merumuskan tujuan-tujuan belajar yang akan dicapai, dengan rumusan yang mudah dipahami. Taksonomi Bloom juga menjadi pijakan praktisi pendidikan dapat merancang program-program pembelajarannya. Secara ringkas, ketiga kawasan dalam Taksonomi Bloom (Budiningsih, 2004:75-76) sebagai berikut:

Kognitif. Terdiri dari 6 (enam) tingkatan:

  1. Pengetahuan (mengingat dan menghafal)
  2. Pemahaman (menginterpretasikan)
  3. Aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan suatu masalah)
  4. Analisis (menjabarkan suatu konsep)
  5. Sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh)
  6. Evaluasi (membandingkan nilai, ide, metode, dan sebagainya)

Psikomotor. Terdiri dari 5 (lima) tingkatan:

  1. Peniruan (menirukan gerak)
  2. Penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak)
  3. Ketepatan (melakukan gerak dengan benar)
  4. Perangkaian (melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar)
  5. Naturalisasi (melakukan gerak secara wajar)

Afektif. Terdiri dari 5 (lima) tingkatan:

  1. Pengenalan (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu)
  2. Merespons (aktif berpartisipasi)
  3. Penghargaan (menerima nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai tertentu)
  4. Pengorganisasian (menghubungkan nilai-nilai yang dipercayainya)
  5. Pengalaman (menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidup)

Dalam perkembangannya, pada tahun 2001 beberapa pakar pendidikan melakukan revisi pada aspek kawasan kognitif menjadi dua dimensi proses kognitif (Uno dalam Thobroni, 2016:137-138) sebagai berikut:

Dimensi Pengetahuan, memuat objek ilmu yang disusun dari:

  1. Pengetahuan fakta
  2. Pengetahuan konsep
  3. Pengetahuan prosedural
  4. Pengetahuan meta kognitif

Dimensi Proses Kognitif, memuat enam tingkatan:

  1. Mengingat
  2. Mengerti
  3. Menetapkan
  4. Menganalisis
  5. Mengevaluasi
  6. Mencipta

Model Pembelajaran Humanistik

Pandangan humanistik yang bertitik tolak dari upaya memaksimalkan potensi manusia telah memunculkan beberapa konsep yang berkaitan dengan pengembangan model pembelajaran yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk membangun sendiri realitas bagi dirinya sendiri dan menekankan kemampuan siswa dalam domain kognitif, afektif, dan psikomotor. Beberapa konsep tersebut di antaranya sekolah terbuka (open schools), multiple intelligence, emotional intelligence, spiritual intelligence, dan experiential learning (Baharudin & Wahyuni, 2015:198-199). Makalah ini hanya akan membahas model pembelajaran open schools dan experiential learning.

A. Open School

Pembelajaran dalam open schools memiliki ciri-ciri (Baharudin & Wahyuni, 2015:199-200) :

  1. Peran guru dan murid. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa untuk secara aktif membimbing diri mereka sendiri dalam belajar, dan siswa juga secara aktif memilih materi, metode-metode, dan langkah-langkah dalam belajar.
  2. Evaluasi diagnostik. Evaluasi belajar siswa tidak hanya didasarkan pada tes yang dikerjakan oleh siswa, tapi juga pada pengamatan terhadap hasil karya dan performa siswa dalam belajar. Evaluasi bertujuan sebagai bimbingan untuk memberikan feedback terhadap kinerja siswa dalam belajar dan bukan untuk menetapkan ranking bagi siswa.
  3. Materi. Pemberian materi yang berbeda-beda digunakan untuk memberikan stimulus bagi siswa agar dapat melakukan eksplorasi dalam belajar.
  4. Pengajaran individual. Sistem pengajaran didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan dan kemampuan individual siswa, sementara siswa belajar sesuai dengan kemampuan mereka sendiri.
  5. Kelompok dengan berbagai tingkat usia. Kelompok yang dibentuk dalam proses belajar terdiri dari siswa dengan berbagai tingkat usia, atau kelompok dibentuk tidak didasarkan pada tingkatan tetapi didasarkan pada aktivitas yang akan dilakukan.
  6. Ruangan terbuka. Dirancang sedemikian rupa sehingga ruangan dapat digunakan secara fleksibel untuk berbagai kegiatan belajar. Ruangan belajar tidaklah selalu diartikan ruangan yang dibatasi oleh tembok dan berbagai perabotan, tapi juga ruangan terbuka di luar kelas.
  7. Team teaching. Sistem pengajaran dapat direncanakan oleh dua atau lebih guru sebagai tim pengajar, sehingga guru dapat merencanakan pengajaran bersama, berbagi sumber belajar dan menggabungkan siswa.

B. Experiential Learning

Pada awal pembahasan telah disinggung mengenai pandangan Kolb dengan konsepnya tentang empat tahap dalam belajar, yaitu; pengalaman konkret, pengalaman aktif dan reflektif, konseptualisasi, dan eksperimentasi aktif. Paparan berikut ini lebih menekankan pada penerapannya sebagai model pembelajaran.

Konsep Dasar

Kolb (Baharudin & Wahyuni, 2015:223) menjelaskan istilah “experiential” dimaksudkan untuk membedakannya dengan teori belajar kognitif yang menekankan kognisi lebih daripada afektif, dan teori belajar behavior yang menghilangkan peran pengalaman subjektif dalam proses belajar. Secara ringkas dapat disajikan bahwa dalam experiential learning mendefinisikan belajar sebagai proses di mana pengetahuan diciptakan melalui transformasi pengalaman (experience). Pengetahuan merupakan hasil berpadunya antara memahami dan mentransformasi pengalaman. Experiential learning menekankan pada keinginan kuat dalam diri siswa untuk berhasil dalam belajarnya sehingga meningkatkan tanggung jawab siswa terhadap perilaku belajarnya dan mereka akan merasa dapat mengontrol perilaku tersebut. Model ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih pengalaman apa yang menjadi fokusnya, keterampilan apa yang ingin dikembangkan, dan bagaimana cara mereka membuat konsep dari pengalaman yang mereka alami tersebut.

Prosedur

Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya, prosedur pembelajaran dalam experiential learning terdiri dari empat tahapan, yakni tahap pengalaman nyata, observasi refleksi, konseptualisasi, dan implementasi. Kolb (Baharudin & Wahyuni, 2015:225) memberi ilustrasi dalam bentuk lingkaran sebagai berikut :

Gambar 2. Experiential Learning Cycle

Proses belajar dimulai dari pengalaman konkret yang dialami individu. Pengalaman konkret (CE) merupakan peristiwa atau proses pembelajaran secara langsung yang dialami oleh individu sebelum memiliki konsep atau teori terkait dengan pengalaman tersebut. Pengalaman tersebut direfleksikan secara individu. Dalam proses refleksi (RO) seseorang akan berusaha memahami apa yang terjadi atau apa yang dialaminya. Dalam konteks pembelajaran di kelas, siswa melakukan refleksi dengan bantuan guru melalui pertanyaan yang diberikan kepada siswa berkaitan dengan pengalaman yang telah diberikan kepada siswa berkaitan dengan pengalaman yang telah diberikan.

Refleksi menjadi dasar proses konseptualisasi (AC) atau proses pemahaman prinsip-prinsip yang mendasari pengalaman yang dialami serta perkiraan kemungkinan penerapannya dalam situasi atau konteks yang lain (baru). Proses implementasi (AE) merupakan situasi dan konteks yang memungkinkan penerapan konsep yang sudah dikuasai. Sehingga dapat disimpulkan bahwa proses pengalaman dan refleksi dapat dikategorikan sebagai proses penemuan (finding out), sedangkan proses konseptualisasi dan implementasi dikategorikan dalam proses penerapan (taking action) (Baharudin & Wahyuni, 2015:226).

Dalam Tabel 1. dapat diamati jenis kemampuan siswa mempengaruhi pengutamaan perilaku siswa dalam proses pembelajaran.

Kemampuan UraianPengutamaan
Concrete Experience (CE) Siswa melibatkan diri sepenuhnya dalam pengalaman baru Feeling (perasaan)
Reflection Observation (RO) Siswa mengobservasi dan merefleksi atau memikirkan pengalamannya dari berbagai segi Watching (mengamati)
Abstract Conceptualization (AC) Siswa menciptakan konsep-konsep yang mengintegrasikan observasinya menjadi teori yang sehat Thinking (berpikir)
Active Experimentation (AE) Siswa menggunakan teori untuk memecahkan masalah-masalah dan mengambil keputusan Doing (berbuat)

Tabel 1. Kemampuan siswa dalam proses belajar pada model Experiential Learning

Menurut Kolb (Baharudin & Wahyuni, 2015:227) individu selalu mencari kemampuan belajar tertentu dalam situasi tertentu. Jadi, individu dapat beralih dari pelaku (AE) menjadi pengamat (RO), dan dari keterlibatan langsung (CE) menjadi analis abstrak (AC). Tahapan belajar ini bertujuan mengakomodasi perbedaan dan keunikan yang dimiliki oleh masing-masing individu.

Lebih lanjut Kolb membagi gaya belajar seseorang menjadi empat kategori (Baharudin & Wahyuni, 2015:228), sebagai berikut:

  1. Converger. Suka menghadapi soal yang mempunyai jawaban tertentu. Bila menghadapi tugas atau masalah bersegera menemukan jawaban yang tepat. Kemampuan utama adalah AC dan AE. Tidak emosional dan lebih suka menghadapi benda daripada manusia. Biasanya minatnya terbatas dan cenderung pada ilmu pengetahuan alam dan teknik.
  2. Diverger. Tipe ini kebalikan dari converger, lebih mengutamakan CE dan RO. Kemampuan imajinasi merupakan kekuatannya. Memandang sesuatu dari berbagai segi untuk kemudian menghubungkannya menjadi sesuatu yang bulat atau utuh. Lebih menyukai berhubungan dengan manusia. Biasanya cenderung lebih menyukai bidang bahasa, kesusasteraan, sejarah, dan ilmu-ilmu sosial lainnya.
  3. Assimilator. Lebih condong AC dan RO. Tidak tertarik pada manusia tetapi lebih tertarik pada konsep-konsep yang abstrak. Tidak terlalu memperhatikan penerapan praktis dari ide-ide. Bidang keilmuan (science) dan matematika cenderung lebih diminati.
  4. Accomodator. Bertentangan dengan assimilator, tipe ini lebih berminat pada CE dan AE. Kelebihannya pada kemampuan menyesuaikan diri dengan berbagai situasi yang baru, memiliki intuitif, dan sering menggunakan “trial and error” dalam memecahkan masalah. Kurang sabar dan ingin segera bertindak. Cenderung mengabaikan teori yang tidak sesuai dengan fakta. Bidang yang diminati meliputi lapangan usaha, penjualan dan pemasaran.
Gambar 3. Hubungan keempat gaya belajar menurut Kolb

Kolb (Baharudin & Wahyuni, 2015:230) mengisyaratkan bahwa gaya belajar tersebut tidak berarti menggolongkan secara permanen dalam masing-masing kategori. Gaya belajar tersebut merupakan fase perkembangan, yang dapat diungkapkan dalam tiga fase, yaitu mengumpulkan pengetahuan (acquisition), kemudian fase memusatkan perhatian pada bidang tertentu (specialization), dan akhirnya menaruh minat pada bidang yang kurang diminati sehingga muncul minat dan tujuan hidup baru.

Implikasi dan Penerapan Teori Humanistik dalam Pembelajaran

Pandangan humanistik yang memberi kebebasan kepada siswa dalam memilih dan merencanakan kondisi belajarnya berimplikasi langsung terhadap pembelajaran yang terjadi. Selain itu posisi guru sebagai fasilitator memegang peranan penting dalam memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa untuk memunculkan motivasi belajar.

A. Kedudukan Siswa dalam Pembelajaran

  1. Siswa merupakan makhluk bebas
  2. Siswa merupakan makhluk bermartabat
  3. Siswa mampu mengontrol dirinya
  4. Siswa merupakan makhluk yang mempunyai karakteristik khas
  5. Siswa tidak diberdayakan tetapi lebih utama pada pemberdayaan

B. Kedudukan Guru dalam Pembelajaran

  1. Guru sebagai fasilitator
  2. Guru mempercayai adanya keinginan masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya
  3. Guru mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfatkan siswa
  4. Guru menempatkan dirinya sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dimanfaatkan oleh kelompok
  5. Menanggapi dinamika kelas dengan baik
  6. Guru mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok

C. Suasana dan Setting Belajar

  1. Pengakuan terhadap manusia sesuai harkatnya
  2. Menghargai kemampuan dan karakteristik individu
  3. Tidak ada pemaksaan, dan saling menerima
  4. Ada keadilan dan tanggung jawab
  5. Tidak diskriminatif
  6. Ada kebebasan memilih
  7. Menghargai ide orang lain
  8. Tidak represif dan rasis
  9. Siswa aktif dalam perkembangan/mengambil keputusan
  10. Dapat hidup bersama dalam perbedaan

Penerapan dalam Pembelajaran

Kritik yang sering dilontarkan terhadap teori humanistik berkenaan dengan kesulitannya diterjemahkan dalam ranah yang lebih praktis karena secara prinsip lebih mendekati bidang filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi dari pada bidang pendidikan. Namun karena sifatnya yang ideal, yaitu memanusiakan manusia, maka teori humanistik mampu memberikan arah terhadap semua komponen pembelajaran dalam mendukung tercapainya tujuan tersebut.

Teori humanistik akan sangat membantu para pendidik dalam memahami arah belajar pada dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun dan dalam konteks manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untuk mencapai tujuannya. Meskipun teori humanistik ini masih sukar diterjemahkan ke dalam langkah-langkah pembelajaran yang praktis dan operasional, namun sumbangan teori ini amat besar. Ide-ide, konsep-konsep, taksonomi-taksonomi tujuan yang telah dirumuskannya dapat membantu para pendidik dan guru untuk memahami hakekat kejiwaan manusia. Hal ini akan dapat membantu mereka dalam menentukan komponen-komponen pembelajaran seperti perumusan tujuan, penentuan materi, pemilihan strategi pembelajaran, serta pengembangan alat evaluasi, ke arah pembentukan manusia yang dicita-citakan tersebut (Budiningsih, 2004: 77).

Secara lebih konkret, langkah-langkah yang dapat diterapkan dalam pembelajaran sebagaimana dikemukakan Suciati dan Prasetya Irawan (Budiningsih, 2004:78) sebagai berikut:

  1. Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran. 
  2. Menentukan materi pembelajaran.
  3. Mengidentifikasi kemampuan awal (entri behavior) siswa.
  4. Mengidentifikasi topik-topik pelajaran yang memungkinkan siswa secara aktif melibatkan diri atau mengalami dalam belajar.
  5. Merancang fasilitas belajar seperti lingkungan dan media pembelajaran.
  6. Membimbing siswa belajar secara aktif.
  7. Membimbing siswa untuk memahami hakikat makna dari pengalaman belajarnya.
  8. Membimbing siswa membuat konseptualisasi pengalaman belajarnya.
  9. Membimbing siswa dalam mengaplikasikan konsep-konsep baru ke situasi nyata.
  10. Mengevaluasi proses dan hasil belajar.

Pendekatan humanistik dapat diterapkan dalam pendidikan untuk mengembangkan individu yang merdeka, dapat memilih dengan bebas dan tanggung jawab, manusia yang kreatif yang dapat senantiasa menyesuaikan diri dengan perubahan dunia. Pembelajaran berdasarkan teori humanistik cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan penerapan teori humanistik mana kala siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma , disiplin atau etika yang berlaku.

Daftar Pustaka

Baharudin; Wahyuni, N.E. (2015). Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-ruzz Media.

Budiningsih, C.A. (2004). Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Rineka Cipta.

Bugental, J. (1965). The Search of Authenticity. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Goble, F.G. (1987). Mazhab Ketiga, Psikologi Humanistik Abraham Maslow. Yogyakarta: Kanisius.

Herpratiwi. (2016). Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Media Akademi

Meier, D. (2002). The Accelerated Learning Handbook. Bandung: Kaifa.

Rachmawati, T.; Daryanto. (2015). Teori Belajar dan Proses Pembelajaran yang Mendidik. Yogyakarta: Gava Media.

Thobroni, M. (2016). Belajar dan Pembelajaran, Teori dan Praktik. Yogyakarta: Ar-ruzz Media.

Kemdikbud. (2016). Hands-Out Pelatihan, Materi Umum dan Materi Pokok Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Please follow and like us:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Suka dengan artikel ini? Please like and follow