Pendekatan Model Pengembangan Kurikulum: “Tyler, Hilda Taba, Oliva, Beauchamp, dan Rogers”

Pengembangan kurikulum pada dasarnya berkaitan dengan proses pengembangan komponen kurikulum baik komponen pokok seperti tujuan, isi/materi, organisasi/strategi, media, dan proses pembelajaran, maupun komponen penunjang yang meliputi sistem administrasi dan supervisi, pelayanan bimbingan, dan sistem evaluasi. Dalam kedudukannya sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, upaya pengembangan kurikulum hendaknya memperhatikan keterkaitan dan keterhubungan antar komponen sebagai satu kesatuan utuh yang dapat menjamin keberhasilan tujuan yang hendak dicapai. Untuk itu model pengembangan kurikulum menjadi hal yang penting untuk diperhatikan agar proses pengembangan kurikulum berada pada rel yang benar.

Model Menurut Para Ahli

Model-model pengembangan kurikulum yang disajikan para ahli memuat langkah-langkah yang dapat dilakukan sesuai dengan tujuan dan kebutuhan pengembangan kurikulum. Pendekatan yang berbeda diharapkan dapat menjadi sumber yang luas dalam meramu berbagai model pengembangan kurikulum menjadi sebuah model pengembangan yang dirasakan dapat memenuhi kebutuhan. Berikut ini akan dibahas beberapa model-model pengembangan kurikulum oleh Tyler, Hilda Taba, Oliva, Beuchamp, dan Rogers.

1. Model Tyler

Model yang dikembangkan oleh Raplh Tyler pada tahun 1949, merupakan model yang masuk pada pendekatan teknikal-saintifik. Model ini dikenal sebagai objectives model, sequential, rational, behavioral, atau means-end model. Mohamad Ansyar (2015) menjelaskan, model yang dikembangkan Tyler ini merumuskan bagaimana merancang kurikulum sesuai dengan tujuan suatu institusi pendidikan. Dalam bukunya Basic Principles of Curriculum and Instruction, Tyler merumuskan desain kurikulum berdasarkan jawaban atas empat pertanyaan pokok: (1) Apakah tujuan pendidikan yang harus dicapai sekolah?; (2) Pengalaman belajar (pengalaman pendidikan) apa yang dimiliki siswa agar tujuan itu tecapai; (3) Bagaimana pengalaman itu diorganisasikan agar efektif?; dan (4) Bagaimana kita mengevaluasi untuk mengetahui efektivitas kurikulum? Menurut Tyler ada 4 hal yang dianggap fundamental untuk mengembangkan kurikulum yaitu:


a. Tujuan
Pada prinsip pertama ini sasaran umum pendidikan berasal dari hasil identifikasi mata pelajaran, siswa, dan masyarakat. Kemudian data tersebut disaring melalui filsafat sekolah, psikologi belajar dan hakikat masyarakat yang menghasilkan tujuan pembelajaran.


b. Pengalaman Belajar/Pendidikan (Learning Experiences)
Tyler menegaskan bahwa kurikulum bukan fokus pada pengajaran konten atau materi, tetapi pada upaya untuk menghasilkan pengalaman pendidikan yang harus dimiliki siswa agar tujuan tercapai. Artinya, kurikulum bukan fokus pada pengajaran konten saja. Tetapi pengajaran konten disertai kegiatan siswa mempelajari konten, sampai konten ditransformasi siswa menjadi pengalaman belajar. Pengalaman belajar adalah segala aktifitas siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan. Pengalaman belajar bukanlah isi atau materi pembelajaran dan bukan pula aktifitas guru dalam memberikan pelajaran.


c. Organisasi atau Urutan
Langkah ketiga dalam merancang suatu kurikulum adalah mengorganisasikan pengalaman belajar baik dalam bentuk unit mata pelajaran maupun dalam bentuk program. Hal ini diperlukan agar tujuan tercapai. Pengalaman harus disusun secara sistematik untuk memperoleh efek akumulatif maksimal. Pengorganisasian yang jelas akan memberikan arah bagi pelaksanaan proses pembelajaran. Sehingga menjadi pengalaman belajar yang nyata bagi siswa.


d. Evaluasi
Prinsip terakhir yaitu evaluasi perancangan kurikulum dan implemnetasinya di sekolah. Tyler semakin yakin bahwa evaluasi bermanfaat untuk mengetahui kadar keberhasilan kurikulum dan pelaksanaanya di sekolah. Jika hasil evaluasi menunjukkan efektivitas kurikulum, desain itu dilanjutkan, tetapi jika tidak efektif, perlu ditetapkan startegi perbaikan kurikulum dan pelaksanaannya.

Lebih lanjut Tyler (Subandijah, 1993:36-37) menegaskan kelompok penentu yang harus diperhatikan agar kegiatan pengembangan kurikulum dapat berhasil, yaitu :
a. The philosophy of community, the school and the teacher
b. The expectation, need and/or demands of society (parents, local community, national government)
c. The nature of the learner (level of physical, mental, and psychological growth and development)
d. The nature of discipline to be taught (content)
Kelompok penentu ini hendaknya harus diperhatikan secara detil oleh pengembang kurikulum agar menghasilkan kurikulum yang dapat memenuhi tujuan pendidikan nasional, permintaan masyarakat akan kebutuhan outcome pendidikan yang tepat guna, dengan memberikan pengalaman belajar yang nyata dan bermanfaat bagi siswa.

2. Model Hilda Taba: Grassroots Rationale

Hilda Taba menjelaskan dalam bukunya Curriculum Development: Theory and Practice (1962), bahwa ada orde definit dalam mendesain kurikulum yang rasional dan dinamis. Berbeda dengan Tyler, Taba percaya bahwa guru harus ikut serta mengembangkan kurikulum yang dinamakannya Grassroots approach. Model ini mirip dengan model kurikulum yang dikembangkan oleh Tyler, tapi lebih sebagai representasi kurikulum di sekolah. Taba berpendapat bahwa kurikulum haruslah didesain oleh pemakainya yaitu guru. Taba memberikan informasi lebih rinci pada tiap langkah proses pengembangan kurikulum di sekolah.

Secara khusus, ia menganjurkan dua pertimbangan kurikuler: (1) konten: organisasi logis kurikulum, dan (2) individu siswa; organisasi psikologis kurikulum.
Model Taba terdiri atas tujuh langkah utama yakni:
a. Diagnosis kebutuhan: guru (pengembang kurikulum) mengidentifikasi kebutuhan siswa.
b. Formulasi objektif: guru menspesifikasi objektif.
c. Seleksi konten: objektif menentukan konten; konten dan objektif harus sesuai, dan validitas dan signifikasi konten juga ditetapkan.
d. Organisasi konten: guru mengorganisasi konten kedalam urutan yang tepat berdasarkan tingkat kematangan, prestasi akademik, bakat dan minat siswa
e. Seleksi pengalaman belajar: guru menyeleksi metode instruksional yang sesuai bagi siswa.
f. Organisasi kegiatan belajar; guru mengorganisasi kegiatan belajar ke dalam urutan yang sering kali ditentukan konten; guru harus memperhatikan siswa yang akan belajar menurut kurikulum itu;
g. Evaluasi dan cara evaluasi; perancang kurikulum menetapkan objektif mana yang sudah tercapai; guru dan siswa menentukan prosedur evaluasi. (Ornstein & Hunskins dalam Mohamad Ansyar, 2015).

Model yang dikembangkan oleh Taba ini merefleksikan kurikulum yang berasal dari akar rumput (grassroots) pendidikan, yaitu kurikulum di sekolah, sehingga guru berfungsi sebagai perancang dan pelaksana kurikulum di sekolahnya. Model pengembangan kurikulum lazimnya dilakukan secara deduktif. Sedangkan model Hilda Taba ditempuh secara induktif, sehingga model ini juga sering dikenal dengan nama Model Terbalik Hilda Taba (Subandijah, 1993:72-73). Ringkasnya pengembangan dilakukan dengan bereksperimen terlebih dahulu, menyusun teori dari hasil eksperimen, baru menerapkannya.

Sebagaimana dapat dijabarkan :
a. Sejumlah guru terlebih dahulu menghasilkan unit-unit kurikulum yang akan dieksperimenkan, dengan cara:
1) Mendiagnose kebutuhan
2) Memformulasikan isi
3) Memilih isi
4) Mengorganisasikan isi
5) Memilih pengalaman belajar
6) Menilai
7) Mengecek perimbangan kedalaman dan keluasan materi
b. Mengujicobakan unit-unit dalam rangka menemukan validitas dan kelayakan pembelajaran.
c. Merevisi hasil yang diujicobakan seta mengkonsultasikannya.
d. Mengembangkan kerangka kerja teoritis. Pertimbangannya berdasarkan atas pertanyaan sebagai berikut :
1) Apakah isi unit-unit yang dikembangkan secara berurutan telah cukup dalam perimbangan keluasan dan kedalamannya?
2) Apakah pengalaman belajar telah memberikan kesempatan intelektual dan emosional?
e. Mengumpulkan dan menyebarkan hasil yang telah diperoleh. Pada tahap ini perlu disiapkan guru dalam penataran, program lokakarya, dan sebagainya.

3. Model Oliva

Oliva mengembangkan kurikulum menjadi dalam tiga kriteria yakni, sederhana, komprehensif dan sistematik. Terdapat duabelas langkah yang menjelaskan tahapan pengembangan kurikulum ini. Langkah 1 – 5 dan 12 merupakan submodel dari sebuah kurikulum, langkah 6 – 11 merupakan sub model pembelajaran.


a. Menetapkan dasar filsafat yang digunakan dan pandangan tentang hakikat belajar dengan mempertimbangkan hasil analisis kebutuhan umum siswa dan kebutuhan masyarakat.
b. Menganalisis kebutuhan masyarakat tempat sekolah itu berada, kebutuhan khusus siswa dan urgensi dari disiplin ilmu yang harus diajarkan.
c. Merumuskan tujuan umum kurikulum yang didasarkan kepada kebutuhan seperti yang tercantum pada langkah sebelumnya.
d. Merumuskan tujuan khusus kurikulum yang merupakan penjabaran dari tujuan umum kurikulum.
e. Mengorganisasikan rancangan implementasi kurikulum.
f. Menjabarkan kurikulum dalam bentuk perumusan tujuan umum pembelajaran.
g. Merumuskan tujuan khusus pembelajaran.
h. Menetapkan dan menyeleksi strategi pembelajaran yang dimungkinkan dapat mencapai tujuan pembelajaran.
i. Menyeleksi dan menyempurnakan teknik penilaian yang akan digunakan.
j. Mengimplementasikan strategi pembelajaran.
k. Mengevaluasi pembelajaran.
l. Mengevaluasi kurikulum.

Oliva berpendapat bahwa model ini dapat digunakan untuk tiga hal yakni; 1) penyempurnaan kurikulum sekolah dalam bidang-bidang khusus seperti bidang studi tertentu di sekolah, baik dalam tataran perencanaan kurikulum maupun dalam proses pembelajarannya; 2) membuat keputusan dalam merancang suatu program kurikulum; 3) mengembangkan program pembelajaran secara lebih khusus.

4. Model Beauchamp: Beauchamp’s System

Beuchamp mendefinisikan teori kurikulum sebagai

a set of related one that gives meaning to a school’s curriculum by pointing up the relationships among it’s elements and by directing its development, it’s use and it’s evaluation

Beuchamp dalam Subandijah (1993:72)

Dari definisi tersebut tergambar upaya pengembangan kurikulum erat kaitannya dengan penggunaan, dan evaluasi kurikulum sebagai arah penjabaran setiap elemen pendukung yang terlibat dalam bangunan kurikulum sekolah. Hubungan dari setiap elemen yang terkait harus dinyatakan secara jelas yang menunjukkan tujuan khusus setiap elemen. Oleh karenanya Beuchamp sangat menyarankan pelibatan ahli kurikulum, ahli pendidikan, dan tenaga profesional terkait dalam upaya pengembangan kurikulum.


Pengembangan kurikulum model Beuchamp ini diambil dari nama penciptanya. Model ini melibatkan lima langkah penting dalam pengambilan keputusan berkenaan dengan pengembangan kurikulum, yakni :
a. Pekerjaan yang harus dilakukan adalah menentukan “wilayah” pengembangan kurikulum, arena ini berupa kelas, sekolah, sistem persekolahan regional maupun nasional.
b. Memilih dan mengikutsertakan pengembang kurikulum, yang terdiri dari spesialis kurikulum, perwakilan kelompok profesional, pendidik, penyuluh, orang awam. Penentuan orang tersebut tergantung pada penentuan wilayah.
c. Pengorganisasian dan penentuan prosedur perencanaan kurikulum yang meliputi penentuan tujuan, materi, dan kegiatan belajar. Untuk keperluan itu ditempuh:


1) Penentuan Dewan Kurikulum sebagai koordinator umum penyusunan kurikulum.
2) Penilaian praktek kurikulum yang sedang berjalan.
3) Pemilihan alternatif materi pembelajaran baru.
4) Penentuan kriteria dan pemilihan alternatif bagian kurikulum.
5) Penulisan secara menyeluruh tentang kurikulum yang dikehendaki.
d. Mengimplementasikan kurikulum secara sistematis.
e. Menyelenggarakan evaluasi kurikulum. Hal yang dievaluasi meliputi:
1) Penggunaan kurikulum oleh pendidik
2) Rencana kurikulum
3) Hasil belajar siswa
4) Sistem kurikulum

Pengembangan kurikulum model Beuchamp ini sangat tersistem, sehingga mudah dilakukan oleh organisasi baik dari skala kecil maupun besar. Meskipun demikian prinsip efektivitas dan efisiensi hendaknya tetap diperhatikan. Contohnya dalam pelibatan ahli-ahli atau tenaga profesional lebih ditekankan pada kebermanfaatan dan perannya sesuai kebutuhan dan lingkup kurikulum yang hendak dikembangkan bukan semata pada kapasitas personal.

5. Model Rogers: Hubungan Interpersonal

Model pengembangan kurikulum yang diajukan Rogers berdasarkan asumsi-asumsi dasar tentang pendidikan di antaranya: 1) kemampuan untuk lulus ujian adalah kriteria terbaik untuk pemilihan siswa dan penetapan profesi; 2) evaluasi adalah pendidikan, dan pendidikan adalah evaluasi; dan 3) pengetahuan merupakan akumulasi bagian-bagian dari materi informasi. Asumsi ini mendasari model pengembangan kurikulum sebagai berikut (Subandijah, 1993:65-69):


a. Model I
Model yang paling sederhana ini hanya memuat dua komponen kurikulum, yakni isi/materi pembelajaran dan ujian/evaluasi. Sebagaimana digambarkan dalam gambar berikut (model I):

Gambar 1. Model I

Model yang sederhana ini ternyata memuat pertanyaan sangat mendasar yang membentuk bangunan awal kurikulum. 1) Mengapa membelajarkan materi ini? Berhubungan dengan mata pelajaran; 2) Bagaimana mengetahui keberhasilan pembelajaran? Berhubungan dengan ujian. Untuk menjawab kedua pertanyaan itu membutuhkan validitas dan signifikansi terhadap apa yang dibelajarkan, kebutuhan atas keseimbangan antara luas dan kedalaman pelajaran, dan relevansi serta minat siswa terhadap isi/materi pembelajaran.
Model I mengabaikan cara-cara yang memungkinkan proses pembelajaran berlangsung secara bermakna. Model ini melupakan beberapa aspek yang berkaitan dalam proses pembelajaran.

b. Model II
Model ini merupakan perbaikan atas pertanyaan lanjutan sebagai akibat model I, yakni; 1) Mengapa membelajarkan materi ini dengan cara atau metode tertentu?; 2 )Bagaimana isi/materi pembelajaran ini diorganisasi? Sehingga ditambahkan cara/metode pembelajaran dan organisasi isi/materi pembelajaran. Sebagaimana digambarkan dalam gambar berikut (model II):

Gambar 2. Model II

Model II melalaikan buku wajib atau bacaan dan alat/media yang dapat mendukung pembelajaran.

c. Model III
Model ini merupakan perbaikan atas pertanyaan lanjutan sebagai akibat model II, yakni; 1) Buku/bacaan apa yang harus digunakan dalam pembelajaran?; 2) Alat/media pembelajaran apa yang dapat membantu pembelajaran? Sehingga pada model III ini ditambahkan komponen teknologi. Sebagaimana digambarkan dalam gambar berikut (model III):

Gambar 3. Model III

Model III dalam pengembangan kurikulum ini sepintas telah baik dan memuaskan. Di dalamnya telah terdapat teknologi yang didefinisikan sebagai alat/media pembelajaran yang meliputi perangkat keras maupun lunak. Teknologi ini berperan penting dalam proses pembelajaran. Kebanyakan pendidik dalam mengembangkan kurikulum hanya berorientasi pada isi/materi pembelajaran dan berhenti sampai di sini. Padahal ada satu hal yang mendasar yang tidak terdapat dalam model III ini. Berkaitan dengan pertanyaan apa yang diharapkan dapat dilakukan oleh siswa sebagai hasil dari pembelajaran?

d. Model IV
Pertanyaan yang muncul setelah model III mendukung terwujudnya model pengembangan kurikulum yang lebih baik, sebagaimana terlihat pada gambar berikut (model IV):

Gambar 4. Model IV

Permasalahan yang berkaitan dengan harapan terhadap siswa dari proses pembelajaran akan sangat membantu guru dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah disebutkan sebelumnya. Tujuan harus menempati posisi sentral dalam pengembangan kurikulum. Model IV menunjukkan bahwa metode pembelajaran, isi/materi, dan organisasi materi serta evaluasi, semuanya terikat pada tujuan-tujuan yang telah dirumuskan secara jelas.


Sebagai seorang psikolog humanis yang menaruh minat tinggi pada bidang pendidikan, Rogers memandang kurikulum haruslah dalam rangka pengembangan individu yang terbuka, luwes, dan adaptif terhadap perubahan, yang hanya akan terwujud jika disusun dan diterapkan oleh pendidik yang terbuka, luwes, dan berorientasi pada proses. Untuk itu diperlukan pengalaman kelompok dalam latihan yang sensitif.
Kelompok latihan sensitif ini terdiri dari 10-15 orang dengan seorang pendidik sebagai fasilitator. Kelompok ini tidak berstruktur dan diharapkan dapat menjadi lingkungan yang memungkinkan orang secara individual berekspresi secara bebas dan dapat berkomunikasi secara interpersonal bebas. Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengembangan kurikulum model ini adalah:

a. Memilih suatu sasaran administratif dalam sistem pendidikan dengan syarat bahwa individu yang terlibat hendaknya ikut aktif berpartisipasi dalam kegiatan intensif kelompok agar dapat berkenalan secara akrab dalam suatu pertemuan “pengasingan” selama seminggu dalam satu tempat khusus yang terpisah jauh dari kesibukan sasaran.

b. Mengikutsertakan pendidik dengan pengalaman intensif kelompok. Di dalam forum ini peserta saling tukar informasi. Pelaksanaannya berselang satu minggu.

c. Mengikutsertakan unit kelas dalam pertemuan lima hari. Pertemuan ini diharapkan menghasilkan pertemuan yang intensif antara guru-guru; guru-siswa dan siswa-siswa, secara akrab dalam suasana ekspresif.

d. Menyelenggarakan pertemuan secara interpersonal antara administrator, pendidik, dan orang tua siswa. Jika memungkinkan pertemuan ini dibarengkan dengan pertemuan unit kelas. Tujuannya agar antara pihak sekolah dengan orang tua siswa berkenalan secara pribadi sehingga mempermudah pemecahan masalah yang dihadapi sekolah.

Selain pertemuan-pertemuan tersebut Rogers juga menyarankan diadakan pertemuan secara vertikal yang menghilangkan hirarki birokrasi dan status sosial. Jadi model pengembangan kurikulum Rogers ini mendukung adanya perubahan tingkah laku dalam hal bagaimana merasakan dan bagaimana memandang sesuatu. Dengan demikian, diharapkan agar keputusan dalam pengembangan kurikulum akan lebih realistis karena diselenggarakan dalam suasana bebas tekanan.

Pengembangan kurikulum merupakan upaya yang komprehensif dan sistematis melibatkan berbagai komponen pendukung kurikulum untuk mencapai suatu tujuan pendidikan yang dikehendaki. Upaya pengembangan kurikulum dirangkum dalam suatu model pengembangan yang menjadi pola dasar perencanaan pengembangan lebih lanjut. Model-model pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh para ahli menggunakan pendekatan yang berbeda-beda disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan. Perbedaan itu menjadi sumber ilmu yang beragam untuk dikolaborasikan hingga mendapatkan model pengembangan kurikulum yang diharapkan dapat lebih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pengguna.

Referensi
Mohamad Ansyar. 2015. Kurikulum: Hakikat, fondasi desain & pengembangan. Jakarta: Kencana.

Subandijah. 1993. Pengembangan dan inovasi kurikulum. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Please follow and like us:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Suka dengan artikel ini? Please like and follow