Rumpun Model Pembelajaran Pemrosesan Informasi

Terminologi pembelajaran mengenal istilah model-model pembelajaran. Model pembelajaran dapat dijabarkan sebagai suatu desain yang menggambarkan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa/mahasiswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri siswa (Sukmadinata & Syaodih, 2012). Dengan kata lain model pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu rencana pembelajaran dengan menunjukkan pola pembelajaran. Dalam pola pembelajaran ini menjelaskan kegiatan guru dan siswa, sumber belajar yang digunakan untuk mewujudkan kondisi belajar atau sistem lingkungan yang memungkinkan siswa mampu belajar.

Model pembelajaran yang baik memiliki beberapa karateristik, yaitu: memiliki prosedur ilmiah, hasil belajar yang spesifik, kejelasan lingkungan belajar, kriteria hasil belajar, dan proses pembelajaran yang jelas (Chauchan dalam Sukmadinata & Syaodih, 2012). Lebih lanjut dijelaskan suatu model pembelajaran dapat memberikan banyak manfaat. Pertama, memberikan pedoman bagi guru dan siswa bagaimana proses pencapaian tujuan pembelajaran. Kedua, membantu dalam pengembangan kurikulum bagi kelas dan mata pelajaran lain. Ketiga,  membantu dalam memilih media dan sumber. Keempat, membantu meningkatkan efektivitas pembelajaran.

  • Rumpun Model-Model Pembelajaran

Joyce, dkk. (2009) mengelompokkan model-model pembelajaran ke dalam empat rumpun yang memiliki orientasi pada (sikap) manusia dan bagaimana mereka belajar. Rumpun-rumpun tersebut adalah:

  1. Rumpun model pembelajaran pemrosesan informasi (the information-processing family)
  2. Rumpun model pembelajaran sosial (the social family)
  3. Rumpun model pembelajaran personal (the personal family)
  4. Rumpun model pembelajaran sistem perilaku (the behavioral systems family)
  • Rumpun Model Pembelajaran Pemrosesan Informasi

Model pemrosesan informasi menekankan pada cara-cara dalam meningkatkan dorongan alamiah manusia untuk membentuk makna tentang dunia (sense of the world) dengan memperoleh dan mengolah data, merasakan masalah-masalah dan menghasilkan solusi-solusi yang tepat serta mengembangkan konsep dan bahasa untuk mentransfer solusi/data tersebut. Beberapa model dalam rumpun ini menyediakan informasi dan konsep pada para siswa, beberapa lagi menekankan susunan konsep dan pengujian hipotesis dan beberapa lain merancang cara berpikir kreatif. Model pembelajaran yang termasuk dalam rumpun model pemrosesan informasi berguna untuk mengamati diri sendiri dan masyarakat. Karena itu dapat diterapkan untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi dan sosial dalam pendidikan.

Teori belajar kognitif Piaget mendasari perkembangan model-model pembelajaran dalam rumpun model pemrosesan informasi, di mana kemampuan siswa dalam memproses informasi menjadi orientasi dasar. Simon & Kaplan, 1989 (dalam Rehalat, 2014:5) menyatakan bahwa pemrosesan informasi merujuk pada cara mengumpulkan/menerima rangsangan dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep, dan menggunakan simbol verbal dan visual. Ilmu kognisi (cognitive science) merupakan kajian mengenai inteligensi manusia, program komputer, dan teori abstrak dengan penekanan pada perilaku cerdas, seperti perhitungan.

Model pemrosesan informasi dapat juga disebut model cognitif information processing, karena menggunakan struktur dalam sistem pengolahan informasi, yakni sensory/intake register, working memory, dan long-term memory. Rehalat (2014:3-4) merangkum secara ringkas cara kerja sistem pengolahan informasi, yakni; 1)  informasi masuk ke sistem melalui sensory register, tetapi hanya disimpan untuk periode waktu terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi masuk ke working memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory; 2) pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working memory, yang dilakukan secara sadar. Kelemahan working memory sangat terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak; 3) long-term memory, yang secara potensial tidak terbatas kapasitasnya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki siswa. Pembelajaran hendaknya mengupayakan agar informasi yang diproses siswa sebanyak mungkin tersimpan dalam long-term memory sehingga dapat bertahan lebih lama.

Ringkasnya, model pembelajaran yang termasuk dalam rumpun pemrosesan informasi menitikberatkan pada aktivitas yang terkait dengan kegiatan proses atau pengolahan informasi untuk meningkatkan kapabilitas siswa melalui proses pembelajaran. Model ini memfokuskan pada fungsi kognitif siswa. Model ini berdasarkan teori belajar kognitif sehingga berorientasi pada kemampuan siswa dalam memproses informasi dan sistem-sistem yang dapat memperbaiki kemampuan tersebut. Berikut adalah model-model pemrosesan informasi yang dikembangkan dan diperbarui oleh beberapa ahli.

  1. Berpikir Induktif – Inductive Thinking

Kemampuan dalam menganalisis informasi dan membuat konsep pada umumnya dianggap sebagai keterampilan berpikir yang fundamental. Pembelajaran berpikir diarahkan agar siswa mampu: a) belajar (berpikir) bagaimana ia belajar; b) berpikir dan belajar menggunakan cara tertentu; c) berpikir mandiri; dan d) berpikir komprehensif. 

Model ini merupakan penyesuaian dari kajian Hilda Taba (1966). Hilda Taba berjasa dalam mengembangkan pendekatan belajar berpikir. Ia mendasarkan pendekatannya pada tiga asumsi, yaitu: a) berpikir dapat diajarkan; b) berpikir merupakan transaksi aktif antara siswa dengan data; dan c) proses berpikir berkembang secara bertahap dari yang sederhana ke tahap yang lebih tinggi/kompleks.

Gambar 1. Potret Hilda Taba | Sumber:slideserve.com

Taba membedakan tiga strategi berpikir induktif yaitu, pembentukan konsep, interpretasi data, dan aplikasi prinsip. Ketiga strategi tersebut dapat digunakan secara terpisah, tetapi dapat juga digunakan secara berkelanjutan sehingga membentuk suatu keutuhan.

Sukmadinata & Syaodih (2012) menjelaskan strategi penerapannya dalam langkah-langkah berikut :

Langkah-langkah

Strategi pertama: Pembentukan Konsep

  1. Mengidentifikasi dan mencatat fakta, data dan informasi
  2. Mengelompokkan: melihat persamaan dan perbedaan karakteristik (ciri, sifat).
  3. Memberi label, mengurutkan: mana konsep utama dan mana bagian

Strategi kedua: Interpretasi Data

  1. Mengidentifikasi hubungan penting: mencatat macam-macam hubungan.
  2. Mengkaji hubungan: hubungan antar bagian, hubungan fungsi, hubungan sebab-akibat.
  3. Menyimpulkan: memberi penafsiran, menarik kesimpulan, implikasi, dan ekstrapolasi.

Strategi Ketiga: Mengaplikasikan Prinsip-prinsip

  1. Memperkirakan akibat, menjelaskan fenomena-fenomena, merumuskan hipotesis: menganalisis masalah atau situasi, menghimpun pengetahuan yang relevan.
  2. Menegaskan dan atau menjelaskan prediksi dan hipotesis: menjelaskan hubungan sebab-akibat yang mengarah pada prediksi dan hipotesis.
  3. Memverifikasi prediksi: menggunakan fakta atau prinsip-prinsip untuk membuktikan prediksi dan hipotesis.

Lebih lanjut Joyce & Weil memberikan ringkasan pada model ini dengan penjelasan sebagai berikut:

Sistem Sosial

Model induktif sebenarnya begitu mudah untuk disusun. Model ini bersifat kooperatif, tetapi guru tetap menjadi inisiator dan pengawas semua kegiatan.

Peran dan Tugas Guru

Guru menyesuaikan tugas-tugas dengan tingkat aktivitas kognitif siswa, menentukan kesiapan siswa.

Sistem Pendukung

Siswa memerlukan data mentah untuk diolah dan dianalisis.

Dampak-dampak Instruksional Pengiring

Model berpikir induktif dirancang untuk melatih siswa dalam membentuk konsep, dan sekaligus, mengajarkan konsep-konsep. Model ini juga membentuk perhatian siswa untuk fokus pada logika, bahasa dan kata-kata.

  • Penemuan Konsep – Concept Attainment

Pemerolehan konsep merupakan suatu pencarian dan pendataan ciri-ciri untuk membedakan apakah sesuatu termasuk konsep tertentu atau tidak. Dalam pemerolehan konsep siswa diminta menggambarkan ciri-ciri dari suatu kategori konsep yang telah terbentuk dibandingkan/dibedakan dari konsep yang tidak memiliki ciri-ciri tersebut. Sukmadinata & Syaodih (2012) menjelaskan konsep tersebut sebagai berikut:

Langkah-Langkah

  1. Penyajian data dan identifikasi konsep:
    • Guru mengemukakan konsep yang sudah dikenal
    • Siswa mengemukakan ciri
    • Siswa menyusun dan menguji hipotesis
    • Siswa membuat definisi berdasarkan ciri suatu konsep
  2. Pengujian pemerolehan konsep
    • Siswa mengidentifikasi ciri-ciri tambahan dari suatu konsep (dengan teknik: ya-bukan)
    • Guru mengecek rumusan hipotesis, konsep nama yang disusun siswa, merumuskan kembali definisi menggunakan ciri-ciri dasar suatu konsep
    • Siswa membuat contoh-contoh konsep
  3. Analisis strategi berpikir
    • Siswa menggambarkan pemikirannya tentang sesuatu
    • Siswa mendiskusikan peranan hipotesis dan ciri-ciri konsep
    • Siswa mendiskusikan jenis dan jumlah hipotesis

Gambar 2. Contoh Pengelompokan Konsep| Sumber:cloudfront.net

Lebih lanjut Joyce and Weil memberikan ringkasan pada model ini dengan penjelasan sebagai berikut:

Struktur pembelajaran

Sturtur pembelajaran terbangun mulai dari memberikan contoh-contoh hingga menguji dan menamai konsep-konsep terapan.

Sistem sosial

Model ini sangat mudah disusun. Guru mengawasi jalannya pembelajaran, tetapi dialog terbuka tetap ada dalam tahap-tahap berikutnya. Begitu pula, interaksi siswa harus dimunculkan. Model ini relatif tersusun dengan baik, di mana para siswa memberikan lebih banyak inisiatif dalam proses induktif saat mereka memperoleh banyak pengalaman (model penemuan konsep yang lain lebih rendah dalam hal penataannya/strukturnya)

Peran/tugas guru

  1. Memberikan dukungan tetapi tetap menekankan diskusi yang hipotetik.
  2. Membantu siswa menyeimbangkan hipotesis yang satu dengan lainnya.
  3. Fokus pada sifat-sifat atau fitur-fitur tertentu dalam contoh-contoh yang ada.
  4. Mendampingi siswa dalam mendiskusikan dan mengevaluasi strategi berpikir mereka.

Sistem pendukung

Dukungan terdiri atas; 1) materi-materi yang telah diseleksi dan dikelola dengan cermat dan teliti; 2) data-data (unit-unit) yang berbeda untuk disajikan sebagai contoh. Saat siswa memiliki cukup pengalaman, mereka bisa diminta untuk berdiskusi dalam membuat unit-unit data, asalkan pada tahap kedua, mereka sudah bisa menghasilkan contoh-contoh.

  • Model Induktif Kata-Bergambar – PictureWord Inductive Model

Konsep

Picture Word Inductive Model (PWIM) merupakan model pembelajaran membaca permulaan yang dikembangkan oleh Calhoun pada tahun 1999. Joyce, Weil, dan Calhoun (2009) menyatakan PWIM merupakan suatu metode pembelajaran membaca dan menulis dengan memanfaatkan cara berfikir induktif siswa untuk menghubungkan kata dengan gambar. Pernyataan ini diperkuat oleh Jiang dan Perkins, 2013 (dalam Khumairoh dkk, 2014:2) yang mendefinisikan PWIM sebagai strategi berbahasa induktif yang berorientasi pada materi membaca dan menulis permulaan.

Gambar 3. Contoh Gambar untuk Model PWIM

Sumber : www.ascd.org/ASCD/images/publications/books/calhoun1999_fig1.1.gif

Secara ringkas dapat dijabarkan langkah-langkah PWIM sebagai berikut:

Langkah-Langkah

  1. Menyajikan kepada siswa sebuah gambar.
  2. Siswa diminta untuk mengamati gambar tersebut.
  3. Siswa menghubungkan gambar dengan kata.
  • Penelitian Ilmiah – Scientific Inquiry

Sukmadinata & Syaodih (2012) menjelaskan konsep ini sebagai berikut:

Konsep

Siswa memiliki rasa ingin tahu yang besar. Latihan inkuiri berfungsi mengembangkan kemampuan untuk mereleasasikan rasa ingin tahu tersebut melalui eksplorasi atau penyelidikan, memberi arahan sehingga mereka dapat mengeksplorasi hal-hal tersebut dengan lebih terarah.

Tujuan

Membantu para siswa mengembangkan kemampuan dan keterampilan intelektual, dalam memunculkan pertanyaan dan mencari jawaban berkenaan dengan hal-hal yang ingin mereka ketahui.

Lingkup

Walaupun awalnya digunakan pada bidang sains, tetapi latihan inkuiri dapat diterapkan dalam hampir semua bidang ilmu dan profesi, khusunya dalam topik-topik yang mengandung masalah.

Langkah-langkah

  1. Konfrontasi masalah
  2. Pengumpulan data dan percobaan
  3. Pengorganisasian, perumusan, dan penjelasan. Merumuskan aturan-aturan dan memberi penjelasan.
  4. Analisis proses inkuiri. Menganalisis strategi inkuiri dan mengembangkan yang lebih efektif.

Lebih lanjut Joyce and Weil memberikan ringkasan pada model ini dengan penjelasan sebagai berikut:

Sistem sosial

Model ini dapat dirancang dengan baik, dengan guru yang mengontrol interaksi dan meresapkan prosedur-prosedur penelitian. Meski demikian standar penelitian adalah kerja sama, kebebasan, intelektual, dan keseimbangan. Interaksi antara siswa seharusnya juga didorong. Lingkungan intelektual terbuka untuk semua gagasan yang relevan, guru dan siswa seharusnya berpartisipasi secara sejajar dimana gagasan-gagasan bisa saling terhubung satu sama lain.

Gambar 4. Contoh Peta Kegiatan dalam Scientific Inquiry | Sumber : fastplants.org

Peran/tugas guru

  1. Meyakinkan bahwa pertanyaan-pertanyaan diutarakan dengan baik sehingga pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan ya atau tidak dan substansi pertanyaan itu tidak mengharuskan guru melakukan penelitian.
  2. Meminta siswa untuk mengutarakan kembali pertanyaan yang kurang baik.
  3. Menegaskan/menunjukkan poin-poin yang tidak disahkan.
  4. Menggunakan bahasa proses penelitian.
  5. Mencoba menyediakan lingkungan intelektual yang bebas dengan tidak menilai teori-teori siswa secara keras.
  6. Mendesak siswa untuk membuat pertanyaan-pertanyaan teori yang lebih jelas dan menyediakan dukungan dalam menggeneralisasi teori itu.
  7. Mendorong interaksi antara siswa.

Sistem pendukung

Dukungan maksimal dalam model latihan penelitian ini adalah seperangkat materi-materi yang dapat mengkonfrontasi persoalan, seorang guru yang dapat memahami proses-proses intelektual dann strategi-strategi penelitian, dan materi-materi sumber yang mengandung beberapa masalah yang unik.

  • Penghafalan – Memorization

Berbicara mengenai penghafalan maka mungkin akan tertuju pada penguasaan daftar-daftar materi yang tidak terstruktur, seperti kata-kata baru, bunyi-bunyi baru. Beberapa bisa menjadi penghafal yang efektif akan tetapi ada juga yang tidak. Salah satu bentuk kekuatan personal yang paling efektif sebenarnya berasal dari kompetensi yang didasarkan pada ilmu pengetahuan. Ini penting untuk membentuk perasaan yang semakin baik dan mengantarkan kita pada kesuksesan.Yang terpenting, mengembangkan kemampuan semacam ini dapat meningkatkan kekuatan dalam belajar, hemat waktu, dan membimbing untuk memperoleh informasi yang lebih baik.

Gambar 5. Contoh Penggunaan Memorization untuk Menghafal Kosakata Baru

Sumber : masterofmemory.com

Gambar 6. Contoh Penggunaan Memorization untuk Konsep Matematika

Sumber : pinterst.com

Lebih lanjut Joyce and Weil memberikan ringkasan pada model ini dengan penjelasan sebagai berikut:

Struktur pengajar

  1. Mempersiapkan materi. Menggunakan teknik-teknik mencakup menggaris bawahi, membuat daftar, dan merefleksikan.
  2. Mengembangakan hubungan-hubungan. Membuat materi menjadi familiar dan mengembangkan hubungan-hubungan dengan menggunakan teknik-teknik sistem kata kunci, kata ganti, dan kata hubung.
  3. Memperluas gambaran-gambaran sensorik. Menggunakan teknik-teknik asosiasi konyol dan melebih-lebihkan.
  4. Mengingat kembali. Melakukan recalling pada materi hingga semuanya tuntas dipelajari.

Sistem sosial

Sistem sosial bersifat kooperatif. Guru dan siswa menjadi satu tim yang sama-sama bekerja dengan materi baru. Prakarsa ini seharusnya lebih ditekankan pada siswa agar mereka dapat melakukan kontrol pada strategi dan menggunakannya untuk menghafal gagasan, kata, dan formula-formula

Peran/tugas guru

Guru membantu siswa mengidentifikasi objek-objek kunci, pasangan, dan gambar-gambar dengan menawarkan sugesti-sugesti tetapi tetap merujuk pada kerangka rujukan siswa. Unsur-unsur familiar utamanya harus sesuai dengan tingkat pemahaman siswa.

Sistem pendukung

Semua perangkat bidang kurikulum yang tradisional dapat dibawa kedalam permainan. Gambar-gambar, bantuan-bantuan nyata, film dan materi-materi audiovisual lain sangat berguna, khususnya untuk meningkatkan kekayaan sensorik siswa dalam mebentuk asosiasi-asosiasi.

  • Sinektik – Synectics

Sukmadinata & Syaodih (2012) menjelaskan konsep ini sebagai berikut:

Konsep

Manusia adalah makhluk kretif. Kreativitas adalah sesuatu yang bisa dijelaskan dan dilatih. Temuan kreatif pada berbagai bidang didasari dengan proses intelektual. Demikian juga proses penemuan kreatif secara indiviual dengan kelompok  tidak berbeda. Penemuan kreativitas berkaitan dengan pemahaman situasi, empati ekspresi kreatif dan kemampuan memecahkan masalah. Kreativitas ini bisa dilatih dan dikembangakan dengan pembelajaran sinektik.

Tujuan

Membantu para siswa mengembangkan pemahaman, empati, kemampuan memecahkan masalah sosial, personal dan interpersoanl.

Lingkup

Digunakan dalam semua bidang dan mata pelajaran.

Strategi

Terdapat dua strategi yakni pertama penciptaan hal baru, membantu siswa melihat hal-hal lama, apakah konsep, masalah, produk sebagai baru, strategi kedua, membuat sesuatu yang sudah jelas asing jadi jelas, membantu siswa membuat sesuatu yang baru dan kurang jelas menjadi jelas dan berarti.

Gambar 7. Contoh Penggunaan Analogi dalam Model Synectic

Sumber : daniellemwilson.weebly.com

Langkah-langkah

Startegi pertama: penciptaan hal baru.

  1. Deskripsi dari kondisi yang ada

Guru meminta siswa untuk menggambarkan situasi sebagai yang mereka lihat saat ini.

  • Analogi langsung

Siswa diminta untuk mengadakan analogi (penyamaan) langsung dengan figur, tugas, jabatan, nama, kasus, dll, lalu memilih salah satu dan menjelaskannya.

  • Analogi personal

Berkenaan dengan hal yang dipilih pada tahap satu dan dua siswa mengadakan analogi dengan dirinya.

  • Pemadatan konflik

Siswa mengambil beberapa deskripsi dari tahap dua dan tiga, lalu mengadakan pemadatan (pengelompokkan) konflik dan memilih satu di .antaranya

  • Analogi langsung

Siswa membuat dan memilih analogi langsung yang lain dari konflik yang telah dipadatkan tersebut.

  • Menguji kembali tugas awal

Guru meminta siswa kembali pada masalah atau kegiatan awal, dan menggunakan analogi yang terakhir atau seluruh kegiatan sinektik sebagai pengalaman.

Strategi kedua

  1. Masukan substantif
    • Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
    • Guru memberikan informasi berkenaan dengan topik baru
    • Siswa diberi kesempatan bertanya tentang materi baru
  2. Analogi langsung
    • Guru memberikan analogi langsung, disertai penjelasan tentang aspek-aspek yang terkait
    • Guru meminta siswa mengadakan analogi dan mendeskripsikan hasil analogi tersebut
    • Siswa diminta menjelaskan hubungan antara materi yang sedang dibahas  dengan aspek-aspek dalam objek atau kegiatan yang dianalogikan. Beberapa siswa diminta mengemukakan hasilnya kerjanya. Guru merangkum hasilnya di papan tulis.
    • Siswa diminta mengemukakan beberapa perbedaan antara aspek-aspek yang ada dalam topik baru dengan objek/kegiatan yang dianalogikan. Beberapa siswa diminta mengemukakan hasilnya kerjanya. Guru merangkum hasilnya di papan tulis.
  3. Analogi personal

Siswa diminta mengadakan analisis langsung berkenan dengan diri siswa, mendiskusikan dan merangkum hasilnya.

  • Analogi perbandingan
    • Siswa mengidentifikasi dan menjelaskan kesamaan antara bahan baru dengan analogi langsung.
    • Siswa menjelaskan dimana ada ketidaksesuaian.
  • Eksplorasi

Siswa diminta menjelaskan kembali topik semula, dengan bahasa sendiri mendiskusikan dalam kelompok kecil dan merangkum hasil diskusi.

  • Analogi pengembangan

Siswa melakukan analogi langsung terhadap materi yang sedang dibahas dengan objek/kegiatan lain, mencari persamaan, dan perbedaan dan merangkumkannya.

  • Advance Organizer

Konsep

Belajar secara maksimal dapat terjadi apabila terdapat potensi kesesuaian antara skema yang telah dimiliki siswa dengan informasi baru sebagai materi yang akan dipelajari. Untuk mendapatkan kesesuaian itu, David Ausubel, mengembangkan advance organizer sebagai strategi perkenalan yang menghubungkan antara skema yang sudah dimiliki oleh siswa dengan informasi baru yang akan dipelajarinya (Baharuddin & Wahyuni, 2015:182-183). Artinya siswa harus menjadi pembangun pengetahuan yang aktif, dengan modal awal yang dimilikinya. Advance organizer akan memberi arahan bagi siswa untuk mengetahui apa yang terpenting dari materi yang akan dipelajarinya, menggarisbawahi hubungan-hubungan yang akan dipelajari, dan memberikan penguatan terhadap pengetahuan yang diperoleh. Dengan demikian struktur pengetahuan yang dimiliki siswa akan sangat kokoh.

Gambar 8. Satu contoh advance organizer dalam materi IPA

Sumber : edtech2.boisestate.edu

Tujuan

Model ini dirancang untuk memperkuat struktur kognitif siswa, pengetahuan mereka tentang pelajaran tertentu dan bagaimana mengelola, memperjelas, memelihara pengetahuan tersebut dengan baik.

Lebih lanjut Joyce and Weil memberikan ringkasan pada model ini dengan penjelasan sebagai berikut:

Struktur pengajar

  1. Presentasi advance organizer
    • Mengklarifikasi tujuan-tujuan pelajaran
    • Menyajikan organizer
    • Mengidentifikasi sifat-sifat yang jelas atau konklusif
    • Memberikan contoh atau ilustrasi yang sesuai
    • Menyediakan konteks
    • Mengulang
    • Mendorong kesadaran pengetahuan dan pengalaman siswa
  2. Presentasi tugas dan materi pembelajaran
    • Menyajikan materi
    • Membuat urutan materi pembelajaran yang logis dan jelas
    • Menghubungkan materi dengan organizer
  3. Memperkuat susunan kognitif
    • Menggunakan prinsip-prinsip pendamaian integratif
    • Membangkitakan pendekatan kritis pada mata pelajaran
    • Mengklarifikasi gagasan-gagasan
    • Menerapkan gagasan-gagasan secara aktif (seperti dengan menguji gagasan tersebut)

Sistem sosial

Model ini dapat disusun dengan baik namun, model ini mengharuskan adanya kerja sama aktif antara guru dan siswa.

Peran/tugas guru

  1. Merunding tentang makna.
  2. Menghubungkan secara responsif antara organizer dengan materi.

Sistem pendukung

Kekayaan data, materi yang disusun dengan baik (peringatan, banyak buku tidak menyoroti materi yang disusun dengan konseptual).

Model pembelajaran dapat dikelompokkan dalam beberapa rumpun berdasarkan orientasi pada (sikap) manusia dan bagaimana mereka belajar. Rumpun-rumpun tersebut adalah: pemrosesan informasi (the information-processing family), pembelajaran sosial (the social family), personal (the personal family), dan sistem perilaku (the behavioral systems family). Rumpun-rumpun model tersebut mempunyai penekanan yang berbeda-beda. Contohnya rumpun pemrosesan informasi menekankan pada cara-cara dalam meningkatkan dorongan alamiah manusia untuk membentuk makna tentang dunia (sense of the world) dengan memperoleh dan mengolah data, merasakan masalah-masalah dan menghasilkan solusi-solusi yang tepat serta mengembangkan konsep dan bahasa untuk mentransfer solusi/data tersebut.

Rumpun model pemrosesan informasi menaungi beberapa model pembelajaran, di antaranya Model Berpikir Induktif (Inductive Thinking), Penemuan Konsep (Concept Attainment), Model Induktif Kata-Bergambar (PictureWord Inductive Model), Penelitian Ilmiah (Scientific Inquiry), Penghafalan (Memorization), Sinektik (Synectics), dan Advance Organizer. Penerapan model-model tersebut harus disesuaikan dengan kekhasan pembelajaran yang hendak dikelola, agar tujuan yang ditetapkan dapat tercapai secara efektif dan efisien.

  • REFERENSI

Baharuddin., Wahyuni, NE. (2015). Teori belajar dan pembelajaran. Yogyakarta: Ar-ruzz Media

Joyce, B., Weil, M., & Calhoun, E. (2009). Models of teaching (Terjemahan, Edisi Ke-8). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Khumairoh, N.I., Winarni, R., & Sriyanti, I.R. (2014). Penerapan Picture Word Inductive Model (PWIM) untuk meningkatkan keterampilan membaca permulaan. Surakarta: Jurnal FKIP Universitas Sebelas Maret

Rehalat, Aminah. (2014). Model Pembelajaran Pemrosesan Informasi. Ambon: Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial. Vol 23, No.2, Edisi Desember 2014

Sukmadinata, N. & Syaodih, E. (2012). Kurikulum dan pembelajaran kompetensi. Bandung: Refika Aditama

Please follow and like us:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Suka dengan artikel ini? Please like and follow