Teori Sebagai Struktur : Paradigma Kuhn

Pandangan semula menyebutkan bahwa perkembangan ilmu merupakan proses akumulasi berbagai penemuan sebelumnya yang terjadi akibat semakin banyak dan semakin beragamnya observasi yang dilakukan sehingga membentuk konsep-konsep yang baru. Sementara telah dijelaskan bahwa observasi tidak dapat dilakukan dengan baik tanpa bantuan dari teori yang mendahuluinya, yang menyebabkan ilmu tidak akan dapat berkembang dengan maksimal jika tidak ada pengaruh hubungan dari variabel lain dalam periode perkembangannya.

Thomas Samuel Kuhn sebagai seorang sejarawan ilmu, tidak sependapat dengan pandangan yang mengabaikan variabel berpengaruh pada periode yang berkembang pada masa itu berkenaan dengan faktor sosiologis yang mempengaruhi cara pandang masyarakat pada masanya terhadap ilmu. Ia memperkenalkan istilah paradigma untuk menjelaskan keyakinan pandangan yang diterima oleh masyarakat ilmiah pada periode waktu tertentu yang mempengaruhi perkembangan ilmu. Pembahasan lebih lanjut akan disajikan sekilas biografi Kuhn, skema berkembangnya ilmu, periode perkembangan ilmu, dan fungsinya menurut Kuhn.

Thomas Kuhn dan Pandangan Awal tentang Struktur Ilmu

Thomas Samuel Kuhn dilahirkan di  Cicinnati, Ohio pada tanggal 18 Juli 1922. Menjadi profesor sejarah ilmu di Universitas Berkeley pada 1961 dan menghasilkan magnum opus-nya,  The Structure Of Scientific Revolution pada tahun 1962.Teori ilmiah sebagai struktur yang kompleks dikembangkan oleh Thomas Kuhn dengan mendasarkan pada; (1) prakonsepsi-prakonsepsi mengenai watak ilmu telah gugur berantakan; (2)pandangan tradisional tentang ilmu (induktivis atau falsifikasionis), tidak mampu bertahan dalam sejarah; (3)sebagai usaha untuk menjadikan ilmu lebih cocok dengan situasi sejarah sebagaimana ia melihatnya.

Sebagai seorang sejarawan ilmu, dapat dipahami pandangannya terhadap ilmu tidaklah bersifat empiris dan ortodoks, namun berupa uraian terbuka menempatkan faktor sosiologis dan psikologis yang mencoba menguraikan pengaruh pandangan masyarakat terhadap ilmu untuk perbaikan atau perkembangan ilmu lebih lanjut. Ilmu berkembang dalam skema “open ended”, sebuah akhir yang terbuka untuk diperbaiki atau dikembangkan lebih lanjut. Skema cara berkembangnya ilmu menurut Kuhn dapat digambarkan sebagai berikut :

Pra-Ilmu – Ilmu-Biasa – Krisis – Revolusi –

Ilmu-Biasa Baru – Krisis Baru

  • Pra Ilmu : aktivitas yang terpisah-pisah dan tidak terorganisasi yang mengawali pembentukan suatu ilmu.
  • Ilmu-Biasa (normal science) : aktivitas tersebut tersusun dan terarah pada suatu paradigma tunggal. Pada tahap ini dapat terjadi :
  • Dipraktekkan oleh ilmuwan-biasa.
  • Ilmuwan-biasa akan menjelaskan dan mengembangkan paradigma dalam usaha untuk mempertanggungjawabkan dan menjabarkan perilaku beberapa aspek yang relevan dengan dunia nyata.
  • Diungkapkan melalui hasil-hasil eksperimen.
  • Tidak dapat mengelak dari falsifikasi-falsifikasi.
  • Krisis : terbebasnya ilmu-biasa dari falsifikasi-falsifikasi.
  • Revolusi : berkembangnya ilmu-biasa yang bebas dari falsifikasi. Pada kondisi ini dapat terjadi :
  • Lahirnya paradigma yang sepenuhnya baru.
  • Menarik semakin banyak kepercayaan para ilmuwan.
  • Paradigma orisinal yang telah menimbulkan problema dilepaskan.
  • Berlangsungterus menerus dan terputus-putus.
  • Membimbing aktivitas ilmiah yang baru dan biasa, yang dalam perjalanannya jatuh dalam kesulitan-kesulitan lain sehingga akhirnya akan memutar kembali skema “open ended”.

Paradigma dan Ilmu-Biasa

Kuhn dalam menjelaskan paradigma merujuk pada dua pengertian. Di satu pihak paradigma berarti keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat ilmiah tertentu. Di pihak lain paradigma menunjukan sejenis unsur dalam konstelasi itu dan pemecahan teka-teki yang kongkrit yang jika digunakan sebagai model, pola, atau contoh dapat menggantikan kaidah-kaidah yang eksplisit sebagai dasar bagi pemecahan permasalahan dan teka-teki ilmu-biasa yang masih tersisa. Secara lebih jelas akan diuraikan secara rinci mengenai paradigma dan ilmu-biasa.

  • Paradigma :
    1. Terdiri dari asumsi-asumsi teoretis yang umum dan hukum-hukum serta teknik-teknik untuk penerapannya yang diterima oleh para anggota suatu masyarakat ilmiah.
    2. Menetapkan standar-standar pekerjaan yang sah di dalam lingkungan yang dikuasai ilmu itu.
    3. Mengkoordinasi dan memimpin aktivitas “pemecahan teka-teki” grup-grup ilmuwan-biasa yang bekerja di dalamnya.
    4. Memungkiri definisi yang ketat.
    5. Eksistensinya yang mampu mendukung tradisi ilmu-biasa membedakannya dengan ilmu dari non-ilmu.
    6. Paradigma mencakup cara-cara yang baku dalam penggunaan hukum-hukum fundamental untuk berbagai macam tipe situasi.
    7. Terdiri dari beberapa prinsip metafisis sangat umum yang membimbing pekerjaan di dalam suatu paradigma.
    8. Mengandung beberapa keterangan metodologis yang sangat umum.
    9. Mempunyai akhir yang selalu terbuka sehingga menimbulkan banyak macam pekerjaan untuk ditangani.
  • Pra Ilmu :
  1. Cirinya dengan sengketa-pendapat total dan perdebatan terus-menerus mengenai hal-hal mendasar yang begitu banyaknya sehingga tidak mungkin untuk meneruskan pekerjaan keahlian yang mendetail itu.
  2. Jumlah teori boleh dikatakan ada sebanyak jumlah pelaksananya di lapangan.
  3. Setiap ahli teori akan merasa wajib memulai dengan yang baru dan membenarkan pendekatannya sendiri yang tertentu.
  4. Contoh : adanya persaingan dari ilmuwan untuk mempertahankan teorinya masing-masing dan mendukung teori yang lain. Seperti teori teori aristoteles, atau teori plato. Satu kelompok menggangap cahaya berasal dari satu partikel-partikel yang keluar dari benda yang berwujud, bagi ilmuwan yang lain mengatakan cahaya adalah modifikasi dari medium yang menghalang diantara benda itu denganmata, yang ahli lain lagi menerangkan bahwa cahaya sebagai interaksi antara medium dan yang dikeluarkan oleh mata. Karena dari masing-masing ilmuwan tidak ada kesepakatan tentang konsep cahaya itu sendiri maka, paradigma tentang cahaya tidak bisa disepakati oleh komunitas ilmiah, selama belum adanya kesepakatan maka tidak akan terjadi ilmu-biasa.
  • Ilmu Biasa:
  1. Melibatkan usaha terperinci untuk menjabarkan suatu paradigma dengan tujuan memperbaiki imbangannya dengan alam.
  2. Aktivitas pemecahan teka-teki (teoretis maupun eksperimental) yang dibimbing oleh peraturan-peraturan suatu paradigma.
  3. Para ilmuwan-biasa harus memperkirakan lebih dulu bahwa suatu paradigma memberikan cara pemecahan teka-teki yang ada di dalamnya.
  4. Kegagalan memecahkan teka-teki dipandang sebagai kegagalan si ilmuwan ketimbang kelemahan paradigma itu sendiri.
  5. Teka-teki yang tidak terpecahkan dipandang sebagai kelainan (anomali) ketimbang sebagai falsifikasi suatu paradigma.
  6. Ilmuwan-biasa harus tidak kritis terhadap paradigma dalam mana ia bekerja sehingga ia dapat memusatkan daya upayanya pada penjabaran paradigma secara terperinci dan menyelesaikan pekerjaan keahlian yang diperlukan untuk menyelediki dengan teliti alam dalam kedalamannya.
  7. Tidak adanya sengketa-pendapat mengenai hal-hal yang fundamental adalah membedakan ilmu biasa yang matang dari aktivitas (kondisi) pra-ilmu yang belum matang dan relatif tidak terorganisasi.
  8. Contoh : pada abad ke-18 paradigma disajikan tentang Optik karya Newton yang mengajarkan bahwa cahaya adalah partikel yang sangat halus yang diterima oleh komunitas ilmiah pada zaman tersebut.
  • Krisis dan Revolusi

Fase krisis dan revolusi menjadi ciri khas pemikiran Kuhn, bahwa banyaknya anomali paradigma yang sampai pada tingkatan menyerang secara fundamental suatu paradigma menjadi peralihan keyakinan dari masyarakat-ilmiah suatu paradigma untuk mengganti paradigmanya.

Krisis :

  1. Ilmuwan-biasa menyalahkan paradigma karena gagal memecahkan suatu masalah.
  2. Paradigma akan menjumpai kesulitan yang disebabkan kelainan (anomali).
  3. Anomali dianggap serius jika; (1)menyerang hal-hal yang paling fundamental dari suatu paradigma; (2)jika kelainan itu secara gigih menentang usaha para anggota masyarakat ilmiah biasa untuk mengenyampingkannya; (3)jika mempunyai arti penting dalam kaitan beberapa kebutuhan masyarakat yang mendesak.
  4. Para ilmuwan-biasa mulai terlibat dalam sengketa filosofis dan metafisis dan mencoba membela penemuan baru mereka dengan argumen-argumen filosofis dari posisi dubius dipandang dari sudut paradigma.
  5. Para ilmuwan mulai menyatakan secara terbuka ketidakpuasan dan kecemasannya terhadap paradigma yang berkuasa.
  6. Sasaran normal science adalah memecahkan teka-teki science dan bukan menghasilkan penemuan-penemuan baru yang konseptual, yang diikuti dengan munculnya teori-teori baru. Akan tetapi dalam perkembangannya akan muncul gejala-gejala baru yang belum terjawab oleh teori yang ada. Apabila hal-hal baru yang terungkap tersebut tidak dapat diterangkan oleh paradigma dan anomali antara teori dan fakta menimbulkan problem yang gawat, serta anomali-anomali tersebut secara fundamental menyerang paradigma maka kepercayaan terhadap paradigma mulai goyah yang kemudian terjadilah keadaan krisis yang berujung pada perubahan paradigma.

Revolusi :

  1. Sekali suatu paradigma telah diperlemah dan digerowoti sampai pada suatu batas sehingga para pendukungnya kehilangan kepercayaan kepadanya.
  2. Krisis mendalam bila suatu paradigma rival sudah menampilkan dirinya.
  3. Paradigma baru atau isyarat yang cukup kuat memungkinkan menjabarkannya, dan muncul secara mendadak di alam pikiran seseorang yang sedang tenggelam di dalam krisis yang dalam.
  4. Paradigma baru itu akan sangat berlainan dan bahkan berlawanan dengan yang lama.
  5. Perbedaan-perbedaannya yang radikal akan terdiri dari berbagai macam jenis.
  6. Paradigma yang bersaing akan memandang berbagai macam pertanyaan sebagai sah dan penuh arti (namun dapat berarti sebaliknya bagi rival).
  7. Cara seorang ilmuwan memandang satu aspek khusus dari dunia ini akan dibimbing oleh paradigma dalam mana ia bekerja (ada satu perasaan bahwa para penyusun paradigma rival itu “hidup di dalam dunia yang berlainan”).
  8. Perubahan kesetiaan para ilmuwan individual dari suatu paradigma ke alternatifnya yang berlawanan (gestalt switch – perpindahan keseluruhan, atau religious conversion – pertukaran agama).
  9. Tidak ada argumen logis yang murni yang mendemonstrasikan superioritas satu paradigma atas yang lainnya.
  10. Karenanya dapat memaksa seorang ilmuwan yang rasional untuk melakukan perpindahan itu (melibatkan berbagai macam faktor di dalam keputusan seorang ilmuwan mengenai faedah suatu teori ilmiah).
  11. Membuang paradigma lama dan menerima paradigma baru tidak hanya oleh ilmuwan individual saja, tetapi oleh masyarakat-ilmiah bersangkutan secara keseluruhan (sebagai bentuk dukungan profesional).
  12. Agar revolusi berhasil, maka pengalihan dukungan harus menyebar meliputi mayoritas masyarakat-ilmiah bersangkutan, dan hanya menyisakan sedikit orang-orang yang memisahkan diri dan terasing dari masyarakat-ilmiah yang baru.
  13. Keputusan seorang ilmuwan individual akan tergantung pada; (1) prioritas yang ia berikan kepada berbagai faktor (kesederhanaan, kaitan dengan suatu kebutuhan sosial yang mendesak, kemampuan memecahkan problema khusus, dsb), (2) kenyataan bahwa pengusul paradigma-paradigma yang bersaing menganut berbagai perangkat standar, prinsip metafisika, dsb, yang berlainan.
  • Fungsi Ilmu-Biasa dan Revolusi

Kuhn memberikan kesan bahwa pandangannya tentang watak ilmu adalah murni diskriptif, yakni bahwa ilmu itu bertujuan tidak lebih dari menguraikan teori-teori ilmiah atau paradigma-paradigma dan aktivitas para ilmuwan.Pandangan Kuhn mengandung satu teori tentang ilmu, karena ia berisi keterangan tentang fungsi berbagai macam komponennya. Menurut Kuhn, ilmu-biasa dan revolusi-revolusi melayani fungsi-fungsi tertentu yang perlu, sehingga ilmu itu harus melibatkan sifat-sifat atau beberapa ciri lain yang bisa melayani pelaksanaan fungsi-fungsi tadi.

Fungsi Ilmu-Biasa :

  1. memberikan kesempatan bagi para ilmuwan untuk mengembangkan detail yang masih terselubung dari suatu teori.
  2. Ilmuwan-biasa akan mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan eksperimen dan teoretis yang diperlukan untuk mengembangkan dan memperbaiki keseimbangan paradigma terhadap alam ke tingkat yang terus menerus meninggi.
  3. Apabila semua ilmuwan adalah ilmuwan-biasa dan tetap menjadi ilmuwan biasa, maka suatu ilmu tertentu akan terperangkap di dalam satu paradigma tunggal dan tidak akan lebih maju dari itu (menurut Kuhn sangat tidak elok dengan teori ‘open ended’nya).

Fungsi Revolusi:

  1. Tidak ada alasan a priori untuk mengharapkan bahwa suatu paradigma adalah sempurna, atau malah terbaik yang dapat diperoleh.
  2. Ilmu harus mengandung di dalam dirinya suatu cara untuk mendobrak ke luar dari satu paradigma ke dalam paradigma yang lebih baik (‘baik’ menurut pandangan beberapa faktor tadi).
  3. Menjadi esensi bagi kemajuan efektif suatu ilmu.

Paradigma Kuhn secara keseluruhan tidaklah begitu ketat, itu sebabnya bisa diganti oleh seperangkat peraturan-peraturan yang explisit. Ilmuwan, individual atau grup, mungkin dapat menginterpretasikan dan menggunakan paradigma dengan baik dalam cara yang agak berlawanan. Dihadapkan pada situasi yang sama, tidak semua ilmuwan akan mencapai keputusan yang sama atau menerima strategi yang sama. Hal ini mempunyai keuntungan bahwa jumlah strategi yang diusahakan akan berlipat ganda. Jadi resiko-resiko akan didistribusikan melalui masyarakat-ilmiah, dan suatu kesempatan sukses jangka panjang pun meningkat. Segi utama teori Kuhn :

  1. Penekanan pada sifat revolusioner dari suatu kemajuan ilmiah,
  2. Revolusi yang membuang suatu struktur teori;
  3. Mengganti teori dengan teori yang lain.
  4. Memainkan peranan penting dalam sifat-sifat sosiologis masyarakat ilmiah.

Daftar Pustaka

Chalmers.A.F. 1983. Apa itu yang dinamakan ilmu? Suatu penilaian tentang watak dan status ilmu serta metodenya. Jakarta : Hasta Mitra.

https://id.wikipedia.org/wiki/Thomas_Kuhn

Please follow and like us:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Suka dengan artikel ini? Please like and follow